Meet
by : Devi Setyaningsih
Telah lama aku
mengagumimu. Hanya berbekal foto dan gambaran cerita dari teman-temanku, aku
nekat. Bahkan, aku rela meminta temanku untuk membuka facebooknya dikala
pelajaran untuk sekedar meliha-melihat foto dan beberapa hal lian tentangmu.
Aku bahkan
mengunduh foto-fotomu dari akun facebookmu. Menjadikannya foto salah satu dari
sekian banyak media sosialku. Menganti namanya menjadi namamu. Membuat akun di
komputerku menggunakan namamu dan fotomu. Aku telah terinfeksi virusmu.
Aku begitu
terobsesi denganmu. Hingga semua media sosial selalu kucari namamu. Tak akan
pernah tertinggal sejengkalpun. Tapi kau tak pernag aktif di media sosial. Bak
ditelan bumi, kau menghilang.
Tapi, aku tahu
tak ada manusia yang sempurna. Paras malaikatmu, diceritakan adikmu yang juga
temanku sangatlah bertempramen buruk. Namun, aku melihatnya menjadi sisi
misterius dirimu. Yang sangat berbeda dengan adikmu. Aku kasihan terhadap
adikmu. Ia pasti selalu dibandingkan denganmu. Aku tahu bagaimana perasaannya.
Dibandingkan dan dijadikan pembanding.
Katanya, kau
selalu suka menyendiri dalam kamarmu, duniamu. Ketika semua anggota keluargamu
berkumpul dan menonton televisi brsama, kau lebih memilih berada di kamarmu,
entah melakukan apa. Jujur, akupun demikian. Kita tak jauh berbeda. Jadi,
haruskah kubilang ini pertanda?
Kemudian,
temanku yang sudah pasti adikmu, berkata bahwa ia selalu bertengkar denganmu.
Kalian tak ragu untuk saling mengirimkan bogem mentaj ke arah wajah ayu
masing-masing lawan kalian. Ia juga pernah berkata bahwa kau pernah membawa
pisau dalam perkelahian kalian. Jujur, aku tak begitu terkejut ketika ia
menceritakannya. Karena kalian adik kakak dan temanku yang merangkap adikmu itu
sangat mudah meledak. Terlebih ketika ia ditekan.
Setelah semua
informasi yang kudapat, yang paling kubutuhkan saat ini adalah kamu.
Kehadiranmu. Mengagumi bahkan sebelum melihat langsung wajahmu itu membuatku
tersiksa mati-matian akan rasa penasaran. Aku ingin bertemu denganmu. Ya hanya
itu. Aku ingin membuktikan, bahwa wajah yang tampak tak berdosa sepertimu, tak
patut menyandang sifat-sifat buruk yang adikmu jabarkan. Entahlah ia hanya
memberitahuku sisi negatifmu saja.
Dan tibalah,
hari dimana aku akan bertemu denganmu. Hari yang terjadi hanya satu kali dalam
satu tahun. Yang mana telah terjadi satu tahun yang lalu. Dan aku membiarkannya
lewat begitu saja. Untuk itu, kali terakhir ini, aku tak akan
menyia-nyiakannya. Aku akaan menunggumu.
Menunggu
bukanlah suatu perkara mudah. Meskipun aku tak sendiri, namun ada perasaan yang
membuatku ingin segera berlayar ke mahligai mimpi. Namun aku tetap bertahan menatap gerbang depan
sekolahku dari lantai dua kelasku berada. Aku bahkan tak menemani ayahku untuk
mengambil uang di ruang tata usaha seperti yang sudah-sudah, hanya untuk
bertemu kamu. Ini untukmu.
“itu dia.. itu
dia.. dia datang.. akhirnya dia datang…” pekikan girang dan teriakan senang
bercampur histeris, mengiringi perjalananmu memarkir sepeda motormu setelah aku
masuk melewati gerbang sekolahan. Kau bersama sepeda motor matic berwarna
putih-biru mudamu dengan kemeja putih bergaris kotak besar dan jeans biru serta
sendal yang pernah kulihat dikenakan adikmu itu melekat sempurna membalut tubuh
kurus tinggimu yang putih bersih.
Kau datang.
Seperti satu tahun lalu yang naasnya tak kulihat penampakanmu.
Kau yang
menggunakan helm kala itu membuat rambutmu berkibar diterpa angin. Kau tak
memiliki kesulitan apapun untuk memarkir
motormu. Mudah dan sigap. Kau berjalan sambil menyisir rambut yang kau biarkan
setengah panjang membentuk sebuah poni yang menutupi dahimu dengan tangan.
Menghampiri adikmu yang kala itu bertugas memarkir motor bertanya dimanakah
letak kelasnya.
Sekarang aku
dapat melihat dengan jelas, bagaimana sempitnya matamu. Bagaimana penampakanmu
yang layaknya chinese. Sangat kontras dengan
paras adikmu yang ayu, kau nampak seperti malaikat. Sebenar-benarnya malaikat.
Kuperhatikan ketika kau berjalan menuju kelasku yang
juga kelas adikmu, semua pasang mata menatapmu. Menatap bagaimana seorang
manusia bisa tampak layaknya malaikat. Aku percaya, kau sudah terbiasa dengan
semua itu. Perhatian berlebih kepadamu. Membuat semua orang nampak rela
meninggalkan perkerjaannya barang sebentar untuk melihat sebuah fenomena yang
menakjubkan.
Para perempuan yang
termasuk aku didalamnya menatapmu dengan tatapan lapar dan sedikit hasrat.
Namun yang kujumpai ternyata tak hanya para perempuan saja. Para lelakipun sama
halnya. Mereka tak mengalihkan pandangan hingga kau hilang manaiki tangga
menuju kelasku. Sejenak aku meragu. Bagaimana orang sepertimu yang memiliki
sejuta pesona tidak memiliki tambatan hati.
Aku menunggu
kemunculanmu dari arah tangga dengan berdebar. Beberapa pemikiran melintas
dibenakku. Dari yang terbaik hingga terburuk sekalipun. Hingga kau hadir di
lantai yang sama denganku. Hany terpaut dua meter dari tempatku berdiri. Ketika
kau menatap ku diantara teman-temanku, seketika aku mengalihkan pandanganku.
Dan mengajak temanku berbicara meskipun ekor mataku menuju padamu.
Ketika kau duduk di
kelaspun, aku selalu berusaha melakukan hal-hal yang sekiranya dapat melihat
parasmu. Ketika aku tak lagi memandangmu dalam beberapa waktu, kucoba untuk
memandangmu kembali. Dan yang kudapati adalah kau sedang menatap punggungku,
namun segera saja kau alihkan pandanganmu. Aku membeku. Benarkah ini? Namun aku
segera membuang pikiran itu.
Aku berdoa semoga
kau tak lekas dapat giliran dan lebih lama duduk disana. Lebih membuatku
leluasa memandangimu. Namun sudah 30 menit kau duduk di sana. Akupun tahu ini
akan segera berakhir. Maka aku mengajak salah satu temanku untuk bersiap di
depan pintu masuk. Menanti kau keluar dari pintu. Namun aku segera merutuki
kebodohanku. Aku takut kau akan menyukai temanku. Ia cantik dan konyol. Itu
adalah suatu paket kepribadian yang sulit ditemukan.
Namun ketika kau berjalan
tepat di depan mataku,aku melihat perbedaan yang jauh dari foto terbaru yang ku
ketahui. Kau bertambah kurus. Pipimu semakin cekung kedalam, berbanding
terbalik denganku yang bertambah cembung. Kau juga nampak lelah. Gurat-gurat
keletihan membuatmu terlihat beberapa tahun lebih tua dari usiamu yang
seharusnya. Namun yang paling kuherankan, kau nampak tak memiliki bekas masa
remaja.
Wajah malaikatmu,
bebas dari apa yang selalu menjadi momok remaja. Jerawat. Pada usiamu tentu
saja taka sing dengan benda satu itu, namun wajahmu bak bayi yang baru saja
lahir. Aku terperanggah kagum terhadap kemolekan rupamu. Bila saja, kulitku
dapat sebagus kulitmu, barang pasti aku tak lagi sendiri. Aku berdiri mematung
menatap kosong punggungmu.
Ku coba
mengais-ngais parfummu diudara. Namun aku tak bias menemukan keharuman yang kau
uarkan. Aku mengernyit bingung namun segera teralihkan. Ketika menatapmu yang
pergi.
Kau melenggang pergi
meninggalkan jejakmu di atas bumi. Bayanganmu yang senatiasa selalu mengikuti,
mengiringi kepergianmu. Aku tak melepas pandangan mulai dari caramu membuka
bagasi sepeda motormu untuk menaruh raport adikmu, mengeluarkan sepeda motormu
dari kumpulan sepeda motor lain, hingga menarik gas sepeda motormu menaiki
tanjakan menuju gerbang dan kau hilang tertelan pagar yang menutup jalan.
Hilang sudah.
Selesai sudah. Tiga puluh menit berharga dihidupkutelah kau isi. Kau membuatku
kembali menginginkan pertemuan denganmu. Secepatnya. Namun apalah daya. Inilah
kali pertama dan kali terakhirnya aku bersua denganmu. Semoga dilain kesempatan
dengan cara yang tak terduga, kita dapat bersua dan saling mengobrol bercanda
layaknya sahabat.
“selamat jalan kak
Ahsana. Hati-hati di jalan. Semoga kita dapat berjumpa kembali.” Perkataan
lirihku mengiringi kepergianmu. Akupun beranjak dari tempatku berdiri dan
segera mengambil motor untuk segera tiba di rumah. Melihat bagaimana buruk
rupaku jika ingin bersanding denganmu.
